MASIGNALPHA101
4166670010457459450

Tapak Tilas Kampung Vietnam Yang Merupakan Bagian Sejarah Indonesia

Tapak Tilas Kampung Vietnam Yang Merupakan Bagian Sejarah Indonesia
28 Feb 2019
Kampung Vietnam - merupakan saksi sejarah yang memilukan bagi para pengungsi asal Vietnam yang melarikan diri dari negaranya akibat dari perang saudara antara Vietnam Selatan dan Vietnam Utara. Para pengungsi ini terdampar di Kepulauan Riau setelah lebih dari sebulan mengarungi Laut Cina selatan menggunakan perahu kayu, sehingga mereka di juluki sebagai "Manusia Perahu" dari Vietnam.

Bekas pengungsian yang kini dijadikan sebagai tempat wisata ini terletak di Pulau Galang yang berjarak 50 kilometer dari pusat kota Batam dan di hubungkan oleh lima jembatan menuju pulau tersebut. Meskipun letaknya sangat terpencil dan jauh dari pusat kota, namun wisata sejarah ini mampu menarik minat wisatawan untuk berkunjung sekadar melihat bekas peninggalan para pengungsi yang tetap dilestarikan dan dijadikan sebagai objek wisata.
wisata kampung Vietnam
wisata kampung vietnam terletak di pulau Galang yang berjarak 50KM dari pusat kota
Mungkin sebagian besar penduduk kota Batam tidak asing lagi dengan yang namanya Kampung Vietnam, tetapi saya yakin tidak banyak yang tahu cerita di balik Kampung Vietnam ini. Cerita tentang Pulau Galang dan pengungsi Vietnam menjadi bagian sejarah negara Republik Indonesia yang pelan-pelan mulai dilupakan. Jadi artikel ini saya tulis tanpa tendensi apapun, hanya sekadar mengenang dan mengingatkan bahwa negara kita di masa lalu pernah dengan tangan terbuka menerima pengungsi asal Vietnam di saat negara-negara lain menolak mereka.

Sejarah Kampung Vietnam

Datangnya orang-orang Vietnam ke pulau Galang sangat erat hubungannya dengan perang saudara antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan atau yang di kenal sebagai perang Indocina Kedua yang terjadi antara tahun 1957 sampai tahun 1975. Perang saudara ini merupakan bagian dari perang dingin antara dua kubu ideologi besar yakni Komunis dan SEATO.

Perang yang berlangsung selama 18 tahun itu berakhir dengan kekalahan Vietnam Selatan atas Vietnam Utara yang pro Komunis. Peristiwa ini membuka babak baru dalam sejarah Vietnam, negara ini melakukan reunifikasi di bawah kepemimpinan Komunis.

Khawatir akan keselamatan diri dan keluarganya, akhirnya warga Vietnam yang mayoritas berasal dari Vietnam Selatan dan merupakan musuh bagi ideologi komunisme berbondong-bondong keluar / melarikan diri dari negera mereka dengan mengarungi laut Cina Selatan menggunakan perahu kayu. Kisah ini di mulai pada tanggal 19 April 1975 dan puncaknya terjadi tahun 1979 ketika Vietnam Utara berhasil menguasai Vietnam sepenuhnya.

Berbulan-bulan para manusia perahu asal Vietnam ini terombang-ambing di tengah perairan laut Cina Selatan tanpa tujuan yang jelas. Sebagian dari mereka ada yang meninggal di tengah laut karena tenggelam, kelaparan, sakit, dan sebagainya.

Setelah sebulan lebih berlayar, tibalah rombongan pertama pada tanggal 21 Mei 1975 di Kepulauan Tujuh (di Kepulauan Anambas). Perahu-perahu mereka pertama kali ditemukan oleh para pengebor minyak, membawa pengungsi sebanyak 75 orang yang berdesak-desakkan di dalam satu perahu kayu yang sudah tua dan rapuh.

Kemudian rombongan manusia perahu lainnya tiba di Tanjung Pinang, Pulau Galang, dan beberapa pulau lain di wilayah Kepulauan Riau. Dengan berangsung-angsur, para pengungsi kian hari semakin banyak jumlahnya yang mencapai 250.000 jiwa. Pengungsi Vietnam ini tidak hanya terdampar di Indonesia melainkan juga ke negara-negara tetangga lainnya seperti Malaysia dan Thailand. Dengan jumlah yang begitu fantastis ini, akhirnya menimbulkan permasalahan beberapa negara tetangga Vietnam yaitu Indonesia, Malaysia dan Thailand.

Permasalahan ini menyita perhatian serius Komisi Tinggi Urusan Pengungsi PBB (UNHCR), sehingga dilakukan perundingan antara tiga negara tersebut di Bangkok - Thailand. Hasil perundingan itu, Indonesia bersama United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), organisasi PBB yang menangani pengungsian, membuat kesepakatan untuk menempatkan mereka di suatu wilayah. Saat itu kamp pertama dibangun di Anambas, sebelum pada akhirnya dibuat kesepakatan lagi pada 1979 untuk menempatkan mereka di Pulau Galang karena jumlah pengungsi yang semakin meluap.

Fasilitas Pengungsian Vietnam

Berbagai sarana dan prasarana di bangun untuk menunjang kelangsungan hidup para pengungsi, seperti barak pengungsian, seperti rumah sakit, tempat ibadah, makam, bahkan penjara untuk membina orang-orang yang melakukan tindak kriminal. Semua biaya untuk pembangunan pulau dibiayai oleh PBB. Lalu Kamp Pulau Galang diresmikan pada Januari 1980 oleh Mantan Presiden Soeharto atas dasar rasa kemanusiaan.

Para pengungsi menjalani kehidupan seperti sedia kala, bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa vietnam dan bahasa inggris. Perjalanan Manusia Perahu sebagai pengungsi berakhir pada 1996 ketika Vietnam sudah kembali kondusif. Sebagian dari mereka kembali ke Vietnam, sebagian lagi dikirim ke luar negeri untuk bekerja usai dibekali pendidikan bahasa inggris dan bahasa perancis.

Kisah pilu Pengungsi Vietnam di Pulau Galang

Pemerkosaan
Wanita yang bernama Tinhn Han Loai menjadi korban pemerkosaan oleh 7 pria yang juga pengungsi. Akibat dari pemerkosaan ini, Tinhn Han Loai akhirnya bunuh diri akibat depresi.

Vietnam Rose
Kala itu para pengungsi di serang oleh penyakit yang mengerikan dan sangat sulit untuk di obati, yang di sebut Vietnam Rose. Penyakit ini menyerang alat kelamin para pengungsi, akibatnya PBB melalui UNHCR mengirim beberapa ahli medis untuk menangani penyakit yang langka itu.

Terisolasi
Sejatinya para pengungsi tidak di perbolehkan untuk bersosialisasi dengan penduduk sekitar. Dengan alasan keamanan dan mencegah menularnya penyakit Vietnam Rose yang di bawa oleh para pengungsi, sehingga kawasan penampungan di jaga ketat oleh aparat, dan hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk ke dalam kamp pada saat itu.

Suaka dan Deportasi ke Negara Asal
Pada tahun 1977, negara-negara maju memberi suaka kepada para pengungsi. Mereka yang ingin menjadi warga negera lain harus mengikuti tes / seleksi. Bagi yang tidak lulus tes, mereka di pulangkan ke negara asal mereka,Vietnam.

Peninggalan Sejarah Kamp Vietnam

misteri kampung vietnam
Dengan luas 80 ha, banyak peninggalan sejarah dari para pengungsi yang bisa kita temukan di sana. Peninggalan para pengungsi itu masih tetap dilestarikan sebagai objek wisata. Terdapat bangunan-bangunan tua tak berpenghuni, mulai dari rumah-rumah yang sudah tidak terawat, rumah sakit, tempat ibadah, sekolah, penjara dan masih banyak bangunan yang lainnya. Selama 17 tahun mengungsi, manusia perahu itu meninggalkan sebanyak 503 makam.
kampung Vietnam
Mungkin kapal kayu ini adalah peninggalan dari para pengungsi yang sangat mencolok untuk dijadikan sebagai background kamp Vietnam. Dengan kapal inilah mereka mengarungi lautan hingga tiba ke pulau Galang dan pulau-pulau lainnya di Kepulauan Riau. Kapal ini tidak di ubah dari bentuk awalnya, hanya saja dilakukan perawatan seperti di perbaiki dan di cat ulang.
pengungsi vietnam
Di kawasan itu terdapat sebuah gedung berwarna putih dan coklat. Gedung itu adalah museum. Di dalamnya kita akan menemukan arsip-arsip sejarah kamp Vietnam lengkap dengan potret seribu wajah pengungsi yang di pajang di pojok pintu masuk museum. Selain itu, foto-foto para pejabat Indonesia yang pernah berkunjung ke pengungsian dan lukisan-lukisan yang menggambarkan kehidupan para pengungsi serta arsip berupa kipling-kipling koran terpampang rapi di dalamnya.
kisah pilu pegungsi vietnam
Tidak luput juga bekas perkakas yang digunakan para pengungsi di pajang berjejer dengan rapi seperti televisi, radio, sepeda, telpon, peralatan daput, patung-patung, mesin TIK dan berbagai perkakas lainnya.

Tepat di depan museum, sebuah bangunan bertingkat dua berwarna putih coklat masih terlihat utuh dilengkapi dengan jeruji besi. Bangunan itu adalah bekas penjara yang di gunakan untuk membina pengungsi yang melakukan tindakan kriminal.
manusai perahu dari vietnam
Satu-satunya bangunan bekas pengungsi yang masih digunakan hingga saat ini adalah Gereja Cua Ky Vien atau Nha To Duc Me Vo Nhiem. Walaupun gereja ini sudah tampak tua dan dibangun menggunakan kayu, namun kondisi fisiknya masih terlihat cukup baik. Hingga sekarang gereja ini masih digunakan oleh umat Katolik untuk beribadah.
bekas peninggalan pengungsi vietnam
Sebelum memasuki halaman gereja, kamu akan melewati grapura dan jembatan kayu. Setibanya di halaman gereja, kamu akan di sambut patung Bunda Maria dan monumen kapal sebagai interprestasi bagi para pengungsi Vietnam. Pada tugu batu disampingnya tertulis 'Danc Len Me, Pray For Us' yang seakan mengisyaratkan para pengunjung turut mendoakan para pengungsi. Selain rumah ibadah umat Kristen, di kamp Vietnam juga di temui Viara yang disebut Chua Kim Quang.
peninggalan sejarah kamp vietnam
Penutup
Ketika kamu berkunjung ke tempat wisata sejarah ini, sadarilah apa yang kamu temui di sana merupakan saksi bisu dari kelamnya kehidupan para pengungsi akibat perang saudara yang terjadi di negara mereka, Vietnam. Atas jasa yang diberikan oleh pemerintah Indonesia melalui presiden Soeharto kala itu, Kamp Vietnam perah mendapatkan penghargaan dari United Nation (UNHCR) sebagai tempat pengungsian terbaik dalam menangani para pengungsi pada tahun 1996.

Kini bekas pengungsian Vietnam dijadikan sebagai museum terbuka, dan bebas dikunjungi oleh wisata lokal maupun manca negara. Tempat wisata ini di kelola oleh Badan Pengusahaan (BP) Batam. Lokasi dibuka setiap hari mulai dari pukul 07.00WIB hingga pukul 17.00WIB.

Peta Lokasi:


Leonardo

Untuk menjadi seorang penulis yang memiliki kontinuitas dan berkualitas memang sangat sulit, tapi bukan berarti tidak bisa.